game theory dalam sistem pajak
insentif di balik ketaatan warga negara
Pernahkah kita melihat slip gaji, lalu mendesah pelan saat melihat sebaris angka yang dipotong untuk pajak? Ada rasa nyeri yang halus di sana. Uang hasil keringat kita, yang seharusnya bisa dipakai untuk jajan atau ditabung, tiba-tiba lenyap begitu saja ke tangan entitas tak kasat mata bernama negara.
Sebagai manusia, otak kita secara evolusioner diprogram untuk melindungi sumber daya yang kita miliki. Kita benci kehilangan sesuatu. Dalam psikologi, ini disebut loss aversion. Rasa sakit karena kehilangan uang terasa dua kali lebih intens daripada kebahagiaan saat mendapatkan jumlah uang yang sama.
Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang sangat masuk akal. Mengapa kita tetap membayarnya? Mengapa jutaan orang di seluruh dunia, secara sukarela, mengisi formulir yang rumit setiap tahun untuk menyerahkan sebagian harta mereka? Tentu, ada ancaman hukuman. Tapi mari kita jujur, kalau kita semua kompak tidak mau bayar, penjara tidak akan muat. Ada sebuah rahasia tersembunyi mengapa ketaatan massal ini bisa terjadi, dan itu bukan sekadar karena kita semua mendadak menjadi warga negara yang berhati malaikat.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Secara historis, pajak adalah sesuatu yang diambil dengan paksa. Di zaman feodal, raja mengirim pasukan berkuda membawa pedang ke desa-desa. Pilihannya saat itu sangat sederhana: serahkan sebagian hasil panen gandummu, atau kepalamu terpisah dari badan. Pendekatannya murni menggunakan teror fisik.
Namun di era modern, pedang itu sudah diganti dengan lembaran kertas dan perangkat lunak. Negara tidak lagi mengirim pasukan ke depan pintu rumah kita setiap bulan. Sebagai gantinya, mereka menggunakan sistem bernama voluntary compliance atau kepatuhan sukarela. Terdengar sangat sopan, bukan?
Tapi di sinilah letak kejeniusan psikologisnya. Sistem kepatuhan sukarela ini sebenarnya menciptakan konflik batin yang luar biasa di kepala kita. Di satu sisi, ada keserakahan alamiah yang berbisik agar kita menyembunyikan pendapatan. Di sisi lain, ada kecemasan moral dan ketakutan akan tertangkap. Kita ditinggalkan sendirian di depan layar komputer, harus memutuskan sendiri apakah kita mau jujur atau berbohong. Negara seolah-olah melepaskan kendali, tapi sebenarnya mereka sedang memindahkan medan pertempuran langsung ke dalam pikiran kita sendiri.
Untuk memahami bagaimana negara memenangkan pertempuran di kepala kita ini, teman-teman perlu berkenalan dengan sebuah cabang matematika yang sangat elegan: Game Theory atau teori permainan.
Bayangkan Game Theory sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana orang mengambil keputusan ketika hasil dari keputusan tersebut sangat bergantung pada apa yang dilakukan oleh orang lain. Salah satu skenario paling terkenal di ilmu ini bernama Prisoner’s Dilemma atau Dilema Tahanan.
Kira-kira begini skenarionya. Bayangkan kita dan seorang teman ditangkap polisi atas sebuah kejahatan. Kita diinterogasi di ruang yang terpisah. Polisi memberi tawaran: "Kalau kamu bersaksi melawan temanmu dan dia diam, kamu bebas dan dia dipenjara 10 tahun. Kalau kalian berdua saling diam, kalian berdua hanya dihukum 1 tahun. Tapi, kalau kalian berdua saling mengkhianati, kalian berdua dipenjara 5 tahun."
Logika kolektif mengatakan kita berdua harusnya tutup mulut agar hukumannya ringan. Tapi karena kita diisolasi, ketidakpastian mulai merayap. "Bagaimana kalau temanku berkhianat? Lebih baik aku berkhianat duluan untuk menyelamatkan diri." Pada akhirnya, ketidakpercayaan membuat kedua tahanan saling mengkhianati dan justru mendapat hukuman yang lebih berat.
Pertanyaannya, apa hubungannya Dilema Tahanan ini dengan slip gaji kita? Bersiaplah, karena di titik inilah realitas kita mulai terlihat seperti sebuah rancangan yang luar biasa cerdik.
Sistem perpajakan modern adalah sebuah arena Prisoner’s Dilemma raksasa yang dirancang dengan sangat brilian oleh negara.
Kantor pajak tidak tahu persis berapa uang yang kita miliki di bawah kasur. Mereka memiliki keterbatasan informasi. Jadi, apa yang mereka lakukan? Mereka mendesain aturan main di mana berbohong menjadi opsi yang secara matematis terlalu berisiko.
Pertama, mereka menggunakan sistem pelaporan pihak ketiga. Perusahaan tempat kita bekerja diwajibkan melaporkan gaji kita ke negara. Bank melaporkan bunga tabungan kita. Sekarang, kita berada persis di posisi tahanan yang diinterogasi. Kita mau berbohong di formulir pajak? Silakan. Tapi ingat, perusahaan dan bank kita sudah "bernyanyi" ke kantor pajak. Kalau data kita dan data mereka tidak cocok, sistem akan menyala merah. Kita saling mengunci satu sama lain tanpa pernah bersepakat.
Kedua, ada trik psikologis bernama withholding tax atau pemotongan di awal. Ingat rasa sakit loss aversion di awal tadi? Negara tahu bahwa meminta uang kas dari tangan kita secara langsung itu sangat menyiksa. Jadi, mereka memotong uangnya sebelum uang itu masuk ke rekening kita. Secara psikologis, kita tidak merasa kehilangan sesuatu yang belum pernah benar-benar kita pegang. Uang itu terasa tidak pernah ada, sehingga rasa sakitnya jauh berkurang.
Ketiga, ancaman audit. Kantor pajak tidak perlu memeriksa semua orang. Mereka hanya perlu memeriksa sebagian kecil saja secara acak, lalu membuat beritanya cukup besar. Ini menciptakan ilusi bahwa mereka ada di mana-mana. Dalam Game Theory, ini menciptakan expected cost (biaya risiko) yang jauh lebih tinggi daripada uang yang kita hemat jika kita curang. Insentif untuk jujur, pada akhirnya, lebih masuk akal daripada risiko bangkrut karena denda.
Tentu saja, semua hitung-hitungan matematis dan trik psikologis ini memiliki satu kelemahan fatal: kepercayaan.
Game Theory perpajakan hanya akan berjalan mulus jika kita merasa uang yang kita serahkan memang digunakan untuk membangun jalan yang kita lewati, rumah sakit tempat kita berobat, dan sekolah untuk anak-anak kita. Ketika negara mulai korup, atau ketika uang pajak dihambur-hamburkan, kontrak sosial itu robek. Ilusi permainannya hancur. Orang akan mulai mencari segala cara untuk mencurangi sistem, bukan karena mereka pelit, tapi karena rasionalitas mereka mengatakan bahwa menyumbang pada pencuri adalah tindakan bodoh.
Pada akhirnya, ketaatan kita membayar pajak adalah bukti betapa rumit dan indahnya psikologi manusia. Kita bukanlah makhluk yang patuh secara membabi buta, bukan pula pemberontak tanpa sebab. Kita adalah makhluk rasional yang terus menimbang risiko, mencoba mencari titik aman antara kepentingan pribadi dan kelangsungan hidup bersama.
Jadi, besok-besok saat teman-teman melihat potongan pajak di slip gaji, tarik napas panjang. Kita tidak sedang dirampok. Kita sedang berpartisipasi dalam sebuah permainan matematika dan psikologi paling kolosal dalam sejarah peradaban manusia. Dan hebatnya? Sebagian besar dari kita memilih untuk bermain dengan aturan yang benar, demi menjaga dunia ini tetap berputar.